Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

SANTRI DAN BUDAYA BEBEK VALENTINE'S DAY

14 Februari, biasanya, merupakan hari yang dinanti-nantikan kaum remaja. Katanya, hari itu adalah "hari raya kasih sayang" atau yang lebih populer disebut Valentine's Day. Hiruk pikuk Valentine's Day semakin semarak ketika mal-mal dan pusat perbelanjaan (kalau di kampung mungkin kios atau toko di pinggiran jalan) menjual bunga, kartu Valentine dengan gambar cupid, coklat berbentuk hati, dan pernak-pernik Valentine's Day lainnya. Demikian juga dengan media—koran, majalah, tabloid, televisi, dan internet tidak menyia-nyiakan momen hari raya kaum muda ini lewat begitu saja, sebab momen-momen seperti ini pasti mendongkrak rating dan oplah bisnis mereka.
Sejarah Valentine's Day merujuk pada seorang Pendeta Kristen St. Valentine. Menurut Ensiklopedi Katolik, ada tiga versi sejarah tentang hari itu. Pertama, pada abad ke 3 M, Claudius II menghukum mati St. Valentine karena menyebarkan ajaran Kristiani.


Kedua, Claudius II berpendapat bahwa pemuda yang terus melajang akan lebih bersemangat dalam peperangan dibandingkan dengan yang menikah, namun St. Valentine menentang perintah Claudius ini dan secara diam-diam menikahkan pemuda-pemudi di Gereja hingga kemudian Claudius II mengetahui dan St. Valentine dijatuhi hukuman mati. Sebelum eksekusi, St. Velentine dijebloskan ke dalam penjara, di penjara inilah dia berkenalan dengan gadis, anak seorang sipir tempat dia dipernjara yang sedang menderita sakit. Dia diminta untuk mengobatinya dan berhasil, si gadis sembuh. Ternyata, diam-diam , St. Velentine jatuh cinta kepada gadis itu, begitupun si gadis jatuh hati kepadanya. Maka jadilah keudanya sepasang kekasih di bilik penjara. Sebelum menghembuskan nafas di tangan algojo Claudius II, St. Valentine mengirimkan sebuah kartu kepada kekasihnya bertuliskan "dari yang tulus cintanya, Valentine.


Ketiga, dulu di sebuah desa, di Eropa, ada sebuah tradisi unik, dimana para pemuda menuliskan namanya pada secarik kertas dan memasukkannya ke dalam sebuah wadah. Kemudian para gadis berkumpul dan masing-masing mengambil satu kertas tadi, nama pemuda yang muncul di kertas yang diambil oleh si gadis akan menjadi pacarnya. Setelah itu, mereka saling berkirim kartu ucapan dengan tulisan "atas nama Tuhan Ibu". Hal ini kemudian menggelitik para pendeta untuk mengganti tulisannya menjadi "atas nama Pendeta Valentine" dan hal itu tak lain adalah upaya kristenisasi yang dilakukan oleh pendeta Kristen. Yang perlu menjadi catatan, tradisi itu berlangsung di pertengahan bulan Februari. Bagaimana dengan pesantren?


Diakui atau tidak, semarak Valentine's Day ternyata juga bergaung di tengah-tengah komunitas pesantren, tentu saja gaungnya tak sehingar dan tak sebingar di luar. Warga pesantren, meski tidak semuanya, dan terutama santriwati, secara sembunyi-sembunyi turut serta dalam menyemarakkan hari raya, yang katanya di barat sana merupakan hari raya terbesar kedua setelah Natal.
Santri yang rata-rata masih di usia sweetseventeen memang rawan dan gampang sekali menjadi bebek (baca:pengekor), termasuk dalam moment Valentine's Day ini. Agresifitas media dalam menyajikan Valentine's Day secara tidak langsung membuat mainset mereka tersesaki indah dan serunya bervalentine-ria. Kronologisnya, mula-mula santri cewek (mungkin) tergoda untuk mengirimkan kartu ucapan "Happy Valentine" kepada orang yang disayanginya. Gayungpun bersambut dari si (santri) cowok, mereka menyiapkan coklat vs bunga mawar (bunganya bisa saja bunga plastik murahan), dan tulisan "Be My Valentine" diselipkan pada sebuah kartu yang kemudian dibungkus dengan kertas motif bunga. Atau urutannya bisa berbalik, santri cowok yang memulai lebih dulu baru kemudian disusul santri cewek. Atau bisa juga kedua-duanya serampangan saling berkirim ucapan Happy Valentine atau Be My Valentine. Ini hanya sebatas gambaran kecil bagaimana santri merayakan Valentine's Day.


Jika menafikan pandangan agama, Valentine's Day mungkin sah-sah saja dirayakan. Tapi yang pasti, Islam sungguh tegas mengharamkan kaum muslimin merayakannya. Apalagi jika dilihat dari sejarahnya, Valentine's Day bermula dari kaum di luar Islam yang dimaksudkan untuk mengenang dan menghormati St. Valentine. Disamping itu, kegiatan Valentine's Day sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai agama dan adat ketimuran. Menurut poling majalah CosmoGirl, 95% gadis yang merayakan Valentine's Day rela melepaskan kegadisannya di perayaan 14 Februari tersebut kepada teman cowoknya.


Rasulullah bersabda, " Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut ." (HR. At-Tirmidzi). Bahkan Ibn Qayyim Al-Jauzi berpendapat, merayakan Valentine's Day sama dengan bid'ah dengan perbandingan hukum keharaman melebihi khamr dan judi—kalaupun tidak sama dengan kafir. Al-Qur'an juga dengan tegas mengatakan, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertangggungjawabannya” (QS. Al Isra’ : 36)


Dengan demikian, pantaskah santri ikut-ikutan merayakan, yang kata meraka, hari kasih sayang ini? Padahal Islam tidak pernah menetapkan hari tertentu untuk menebar kasih sayang, sebab pada prinsipnya cinta dan kasih sayang itu mesti diimplemetasikan tiap hari, tidak hanya kepada sesama manusia, tapi juga kepada lingkungan juga dan tidak pada tanggal 14 Februari saja. Wallahu a'lam!

Posting Komentar untuk "SANTRI DAN BUDAYA BEBEK VALENTINE'S DAY "